Santri Dan Alam

Blog Pendakian Gunung Dan Kajian Islam

Empat Jam Menuju Ranukumbolo ( bag. ke 2 dari Menggapai Puncak Mahameru 14 - 16 Agustus 2013)

Meneruskan catatan perjalanan kami Menggapai Puncak Mahameru 14 -16 Agustus 2013 sebelumnya, setelah bertiup kabar bahwa Arcopodo akan di jaga kopassus, maka harus segera sampai sebelum penutupan jalur ke puncak benar-benar dilakukan. Namun normalnya untuk ke puncak butuh paling tidak dua kali buka tenda, pertama ngecamp di Ranukumbolo dan ke dua di Kalimati.

Untuk sampai Ranukumbolo diperlukan waktu sekitar empat jam, kami berangkat sekitar jam 4 sore, maka kemungkinan sampai Ranukumbolo sekitar jam 8 malam.Bagi seorang pemula seperti kami ini sebetulnya berangkat sore kurang baik juga, paling tidak waktu istirahat kami akan tersita. Coba saja jam 8 malam sampai Ranukumbolo dalam keadaan kami belum tahu kondisi dan tempat yang enak untuk buka tenda,belum lagi waktu akan terpotong untuk masak, makan dan sebagainya sehingga istirahat kemungkinan baru bisa setelah di atas jam 9 malam.

ranukumbolo,semeru,santri dan alam
Suasana Ranukumbolo Siang Hari Begitu Cerahnya

Perjalanan kami ini mungkin sama saja dengan perjalanan tim-tim yang lain, bahkan bisa dikatakan perjalanan yang nyantai jadi tidak bisa dijadikan sebagai referensi sehingga untuk mencatat secara teliti berapa jam kami menempuh tiap pos,suhu udara tiap pos dan sebagainya saya pribadi agak males. Sebetulnya dengan menghidupkan GPS, setting track log pada posisi on, record method pakai auto, maka semua data perjalanan akan terekam, seperti : kecepatan jalan,ketinggian tempat,waktu/jam,suhu udara. Namun untuk menghemat baterai,maka GPS saya matikan.

Seingat saya maka tiap pos memakan waktu tempuh sekitar 1 jam, ada 3 pos dan dari pos 3 ke Ranukumbolo membutuhkan waktu 1 jam juga, jadi untuk sampai Ranukumbolo memang rata-rata membutuhkan waktu 4 jam. Jalur tiap pos sudah kelihatan dengan jelas, ikuti saja jalur pendakian yang sudah ada. Rambu-rambu atau plang nama tempat juga sudah ada.

Kami 12 orang berjalan satu persatu, kadang ada yang kecapekan sehingga tertinggal, dan yang di depan memang semangat jalan terus menuju Ranukumbolo. Sore mulai menyertai kami saat perjalanan sampai di kawasan Watu Rejeng.


Kawasan Watu Rejeng
Karena kondisi dari tiap person berbeda-beda, ada yang kuat ada yang biasa-biasa saja, maka seperti biasa, rombongan terpisah, tapi alhamdulillah karena kami bawa lampu parkir (lampu yang biasa di bawa tukang parkir) lampu tersebut selain kami gunakan untuk memberi aba-aba saat berkendara motor ternyata berguna juga untuk menandai di mana rombongan kita berkumpul.
Rombongan lampu parkir sudah lebih dahulu sampai area Ranukumbolo, terlihat ditepi Ranukumbolo lampu-lampu layaknya lampu pemukiman yang terlihat dari atas bukit. Memang menjelang 17 Agustus ini rame sekali pendakian, berapa ribu pendaki ya? tanya ku dalam hati.

Mencari Tempat Yang Cocok Untuk Mendirikan Tenda
Seperti kebiasaan kami santri dan alam, maka cari tempat nge-camp yang kondusif, yang sepi, nyaman untuk istirahat tanpa harus ikhtilat dengan cewek,tanpa harus dengerin musik, tanpa dengerin teriakan urakan, bukan kami sok suci, namun begitulah bekal kami untuk mewujudkan niat kami untuk tadabur alam, berusaha untuk tetap bertaqwa. Yah...begini kalau mendaki bertepatan dengan suatu event tertentu, 17 agustus sebentar lagi, semua bertepatan dengan libur kami di hari Raya Idul Fitri. Terus mencari tempat yang cocok untuk mendirikan tenda. Ku punya usulan kepada Jabir untuk cari tempat yang dekat dengan Tanjakan Cinta aja agar kita bisa dengan mudah melanjutkan perjalanan, padahal saat itu saya pribadi kurang paham area Ranukumbolo. Tapi secara umum mendirikan tenda itu jangan jauh-jauh dari sumber air agar mudah mengambil air.
Udara semakin terasa dingin, karena kita lama tidak bergerak, maka di putuskan buka tenda di area sebelum area jalan menuju shelter Ranukumbolo. Segera cepat pasang tenda, keluarkan isi tas, kompor,air, minuman,makanan, buat minuman dan makan snack agar badan tidak terlalu dingin. Angin bertiup lumayan kencang, dingin terasa dikulit-kulit kami, alamdulillah kami masih bisa sholat maghrib dan sholat isya' yang kami kerjakan di waktu isya'. Setelah sholat, kami buka tenda 5, yang kuat menahan udara dingin di luar tenda menyiapkan air, kompor dan apa-apa yang mau dimasak. Setelah beres semua, maka selamat menikmati dinginnya Ranukumbolo di malam hari.


semeru,watu rejeng
Suasana Pagi Di Ranukumbolo

pagi hari berkabut di ranukumbolo
Berkabut Pagi Hari Di Ranukumbolo

Share this article :
+
0 Komentar untuk "Empat Jam Menuju Ranukumbolo ( bag. ke 2 dari Menggapai Puncak Mahameru 14 - 16 Agustus 2013)"

 
Template By Kunci Dunia